Banyak brand skincare ingin tampil menonjol di pasar. Mereka memakai kata-kata yang kuat seperti “menghilangkan jerawat”, “memutihkan permanen”, “menghapus flek hitam”, “menyembuhkan kulit rusak”, atau “hasil instan”. Secara marketing, klaim seperti ini memang terdengar menarik. Namun, dari sisi regulasi kosmetik, klaim yang terlalu kuat justru bisa membuat brand berisiko.
Dalam produk kosmetik, klaim bukan sekadar kalimat promosi. Klaim berkaitan dengan label, iklan, konten marketplace, landing page, brosur, video promosi, dan cara brand menjelaskan manfaat produk kepada konsumen. BPOM sudah memiliki aturan tentang penandaan, promosi, dan iklan kosmetik melalui Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024.
Karena itu, sebelum brand skincare mencetak kemasan atau membuat kampanye promosi besar, label dan klaim sebaiknya direview terlebih dahulu. EdarGo membantu pelaku usaha melakukan mapping awal melalui Jasa Konsultan Izin Edar Produk, khususnya jika brand belum yakin apakah klaim, label, dan kategori produknya sudah aman.
Kenapa Klaim Skincare Perlu Hati-Hati?
Produk skincare termasuk kosmetik. Kosmetik umumnya berfungsi untuk membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan, memperbaiki bau badan, melindungi, atau memelihara tubuh agar tetap dalam kondisi baik. Masalah muncul ketika klaim kosmetik mulai masuk ke wilayah pengobatan penyakit atau janji hasil yang terlalu absolut.
Contohnya, klaim “membantu merawat kulit berjerawat” berbeda nuansanya dengan “menyembuhkan jerawat sampai tuntas”. Klaim pertama masih terdengar sebagai perawatan kosmetik, sedangkan klaim kedua bisa dipersepsikan sebagai klaim pengobatan.
Untuk kosmetik yang akan diedarkan di Indonesia, tata cara pengajuan notifikasi kosmetik diatur dalam Peraturan BPOM Nomor 21 Tahun 2022 tentang Tata Cara Pengajuan Notifikasi Kosmetika, yang tercatat di JDIH BPOM sebagai regulasi berstatus berlaku.
Jika brand tidak memahami batasan klaim sejak awal, risiko yang bisa muncul antara lain:
- label harus direvisi;
- konten iklan harus diubah;
- materi promosi marketplace berisiko bermasalah;
- konsumen merasa klaim terlalu berlebihan;
- brand terlihat tidak profesional;
- proses notifikasi atau review dokumen menjadi lebih rumit;
- kemasan yang sudah dicetak harus diperbaiki.
Untuk mengurangi risiko seperti ini, brand dapat menggunakan Jasa Konsultan Label BPOM sebelum desain kemasan dicetak.
Kesalahan 1: Menggunakan Klaim Seperti Obat
Kesalahan paling umum adalah memakai klaim skincare yang terdengar seperti obat. Misalnya:
- “mengobati jerawat”;
- “menyembuhkan eksim”;
- “menghilangkan infeksi kulit”;
- “menyembuhkan iritasi”;
- “mengatasi penyakit kulit”;
- “menghilangkan jamur kulit”;
- “menyembuhkan luka”;
- “mengobati dermatitis”.
Klaim seperti ini berisiko karena kosmetik sebaiknya tidak dikomunikasikan sebagai produk yang menyembuhkan penyakit. Brand skincare perlu menjaga bahasa klaim agar tetap berada di wilayah perawatan kulit, bukan pengobatan.
Contoh alternatif yang lebih aman secara komunikasi:
| Klaim Berisiko | Alternatif yang Lebih Hati-Hati |
|---|---|
| Mengobati jerawat | Membantu merawat kulit berjerawat |
| Menyembuhkan iritasi | Membantu menenangkan kulit |
| Menghilangkan eksim | Membantu menjaga kelembapan kulit kering |
| Mengobati kulit rusak | Membantu merawat kulit agar terasa lebih sehat |
| Menyembuhkan luka | Membantu menjaga kulit tetap lembap |
Tetap perlu diingat, alternatif klaim pun harus disesuaikan dengan formula, fungsi produk, data pendukung, dan kategori produk.
Kesalahan 2: Menjanjikan Hasil Instan
Klaim hasil instan sangat sering digunakan dalam iklan skincare. Contohnya:
- “jerawat hilang dalam semalam”;
- “flek hitam hilang dalam 3 hari”;
- “kulit putih permanen”;
- “wajah glowing seketika”;
- “pori-pori tertutup total”;
- “kerutan hilang 100%”;
- “bekas jerawat hilang total”.
Klaim seperti ini berisiko karena terdengar absolut, menjanjikan hasil pasti, dan dapat menimbulkan ekspektasi berlebihan pada konsumen.
Klaim yang lebih hati-hati biasanya memakai bahasa seperti:
- “membantu kulit tampak lebih cerah”;
- “membantu menyamarkan tampilan noda hitam”;
- “membantu menjaga kelembapan kulit”;
- “membantu kulit terasa lebih halus”;
- “membantu merawat tekstur kulit”;
- “membantu kulit tampak lebih segar”.
Kuncinya adalah menghindari kata-kata mutlak seperti pasti, total, permanen, 100%, instan, sembuh, hilang selamanya, atau klaim yang terlalu menjanjikan hasil medis.
Kesalahan 3: Klaim “Memutihkan Permanen”
Klaim pemutih kulit perlu sangat hati-hati. Banyak brand masih memakai istilah seperti:
- “memutihkan permanen”;
- “putih dalam 7 hari”;
- “mengubah warna kulit”;
- “kulit putih selamanya”;
- “pemutih wajah paling ampuh”;
- “menghilangkan kulit gelap total”.
Klaim seperti ini tidak hanya berisiko dari sisi regulasi, tetapi juga bisa menimbulkan persepsi yang kurang sehat di mata konsumen modern. Saat ini, komunikasi skincare lebih baik diarahkan pada kesehatan dan perawatan tampilan kulit, bukan janji mengubah warna kulit secara ekstrem.
Alternatif bahasa yang lebih aman:
- membantu kulit tampak lebih cerah;
- membantu merawat kulit kusam;
- membantu menyamarkan tampilan noda hitam;
- membantu kulit terlihat lebih segar;
- membantu meratakan tampilan warna kulit.
Namun, klaim brightening tetap perlu didukung formula dan konteks produk yang sesuai.
Kesalahan 4: Menggunakan Klaim “Tanpa Efek Samping”
Klaim “tanpa efek samping” terdengar meyakinkan, tetapi sebenarnya berisiko. Setiap produk kosmetik tetap bisa menimbulkan reaksi berbeda pada tiap orang, tergantung kondisi kulit, cara penggunaan, riwayat alergi, dan bahan yang digunakan.
Contoh klaim yang perlu dihindari:
- “100% tanpa efek samping”;
- “aman untuk semua jenis kulit”;
- “pasti cocok untuk semua orang”;
- “tidak mungkin iritasi”;
- “bebas risiko alergi”.
Alternatif yang lebih hati-hati:
- “cocok untuk kulit normal hingga kering” jika memang relevan;
- “gunakan sesuai petunjuk”;
- “hentikan pemakaian jika terjadi reaksi yang tidak diinginkan”;
- “lakukan patch test terlebih dahulu” jika diperlukan;
- “telah diformulasikan untuk membantu merawat kulit”.
Brand tidak boleh membuat konsumen percaya bahwa produk pasti cocok untuk semua orang tanpa risiko.
Kesalahan 5: Klaim Tidak Sesuai Formula
Klaim skincare harus selaras dengan formula. Jika produk mengklaim “mencerahkan”, “melembapkan”, “menenangkan”, “melindungi skin barrier”, atau “mengontrol minyak”, maka formula sebaiknya memang mendukung klaim tersebut.
Masalah yang sering terjadi:
- klaim brightening tetapi bahan pendukung tidak jelas;
- klaim anti-aging tetapi tidak ada basis formula yang relevan;
- klaim sunscreen tetapi data SPF/PA belum siap;
- klaim acne care tetapi bahasa terlalu mirip obat;
- klaim barrier repair terlalu agresif;
- klaim sensitive skin tanpa data pendukung;
- klaim natural tetapi formula mengandung banyak bahan sintetis.
BPOM juga memiliki regulasi terbaru tentang persyaratan teknis bahan kosmetik, yaitu Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik. Regulasi ini tercatat berlaku dan mencabut regulasi teknis bahan kosmetik sebelumnya.
Karena itu, sebelum menyusun klaim, brand sebaiknya mencocokkan klaim dengan komposisi produk.
Kesalahan 6: Menggunakan Klaim “BPOM Approved” Secara Berlebihan
Beberapa brand suka memakai istilah seperti:
- “BPOM approved”;
- “disetujui BPOM”;
- “direkomendasikan BPOM”;
- “produk terbaik menurut BPOM”;
- “BPOM menjamin kualitas produk ini”.
Brand perlu berhati-hati dengan narasi seperti ini. Nomor notifikasi atau izin edar tidak boleh dipakai untuk membuat kesan bahwa BPOM merekomendasikan produk secara komersial. Legalitas produk bukan berarti klaim promosi bebas digunakan.
Kalimat yang lebih aman biasanya cukup informatif, misalnya:
- “telah memiliki nomor notifikasi BPOM”;
- “nomor notifikasi: NAxxxxxxxxxxx” setelah benar-benar terbit;
- “cek legalitas produk melalui kanal resmi yang tersedia”.
Tetap hindari membuat seolah-olah lembaga resmi memberikan endorsement terhadap brand.
Kesalahan 7: Klaim di Iklan Tidak Sama dengan Label
Banyak brand sudah hati-hati di label, tetapi terlalu agresif di iklan. Misalnya, label hanya menulis “membantu melembapkan kulit”, tetapi iklan TikTok, Instagram, marketplace, atau landing page menulis “menghilangkan kulit rusak dan flek hitam dalam 3 hari”.
Ini berisiko karena promosi dan iklan kosmetik juga menjadi bagian yang diatur. Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024 mengatur penandaan, promosi, dan iklan kosmetik, sehingga komunikasi produk tidak hanya berhenti pada kemasan.
Materi yang perlu direview:
- label kemasan;
- caption media sosial;
- video promosi;
- landing page;
- deskripsi marketplace;
- brosur;
- banner;
- iklan berbayar;
- script host live shopping;
- testimoni yang dipakai sebagai materi promosi.
Jika brand ingin lebih aman, review label dan materi promosi harus dilakukan bersama. Gunakan Jasa Konsultan Label BPOM untuk mengecek klaim sebelum kampanye berjalan.
Kesalahan 8: Testimoni Konsumen Dipakai sebagai Klaim Utama
Testimoni memang efektif untuk marketing. Namun, testimoni juga bisa menjadi berisiko jika dipakai untuk menyampaikan klaim yang tidak boleh diklaim langsung oleh brand.
Contoh testimoni yang berisiko jika dipakai sebagai materi promosi utama:
- “jerawat saya sembuh total”;
- “flek hilang 100%”;
- “kulit saya putih permanen”;
- “eksim saya sembuh setelah pakai produk ini”;
- “rambut botak saya tumbuh lagi”;
- “bekas luka hilang total”.
Meskipun kalimat berasal dari konsumen, ketika brand mengunggah ulang, memasang di website, menjadikan iklan, atau memakainya untuk promosi, brand ikut bertanggung jawab terhadap pesan yang disampaikan.
Testimoni sebaiknya dipilih dan disajikan secara hati-hati, tidak mengandung klaim medis, tidak menyesatkan, dan tidak memberikan janji hasil yang berlebihan.
Kesalahan 9: Klaim “Aman untuk Ibu Hamil, Bayi, dan Semua Usia”
Klaim untuk kelompok sensitif harus sangat hati-hati. Misalnya:
- aman untuk ibu hamil;
- aman untuk ibu menyusui;
- aman untuk bayi;
- aman untuk anak-anak;
- aman untuk semua usia;
- aman untuk kulit sensitif ekstrem.
Klaim seperti ini memerlukan pertimbangan lebih serius karena menyasar kelompok yang lebih rentan. Jika tidak ada dasar yang cukup, sebaiknya hindari klaim terlalu luas.
Alternatif yang lebih hati-hati:
- jelaskan target penggunaan produk sesuai kategori;
- gunakan petunjuk pemakaian yang jelas;
- cantumkan peringatan jika diperlukan;
- arahkan konsultasi ke tenaga kesehatan jika pengguna memiliki kondisi khusus;
- hindari klaim absolut.
Kesalahan 10: Tidak Membedakan Kosmetik dengan Suplemen atau Pangan
Di dunia beauty, banyak produk membawa klaim kecantikan, tetapi tidak semuanya kosmetik. Contohnya:
- minuman kolagen;
- vitamin kulit;
- gummy beauty;
- suplemen rambut;
- jamu kecantikan;
- serbuk minuman untuk kulit;
- kapsul herbal untuk jerawat.
Produk seperti ini tidak otomatis masuk kosmetik. Bisa saja masuk pangan olahan, suplemen kesehatan, obat tradisional, atau kategori lain. Jalur izinnya berbeda.
Jika produk berupa makanan atau minuman lokal, kemungkinan perlu dikaji ke Jasa Konsultan BPOM MD. Jika produk impor, bisa dikaji melalui Jasa Konsultan BPOM ML. Untuk produk yang belum jelas kategorinya, mulai dari Jasa Konsultan Izin Edar Produk.
Tabel Contoh Klaim Skincare yang Perlu Direview
| Klaim Berisiko | Kenapa Berisiko | Alternatif Lebih Hati-Hati |
|---|---|---|
| Mengobati jerawat | Terdengar seperti klaim obat | Membantu merawat kulit berjerawat |
| Memutihkan permanen | Terlalu absolut dan berlebihan | Membantu kulit tampak lebih cerah |
| Menghilangkan flek total | Menjanjikan hasil pasti | Membantu menyamarkan tampilan noda hitam |
| Tanpa efek samping | Klaim keamanan absolut | Gunakan sesuai petunjuk |
| Aman untuk semua orang | Terlalu luas | Cocok untuk jenis kulit tertentu, jika relevan |
| Menyembuhkan eksim | Klaim penyakit | Membantu menjaga kelembapan kulit kering |
| Menumbuhkan rambut botak | Berisiko klaim pengobatan | Membantu merawat kulit kepala dan rambut |
| Hasil dalam semalam | Klaim instan | Membantu kulit terasa lebih lembap/halus |
| BPOM merekomendasikan | Bisa dianggap endorsement | Telah memiliki nomor notifikasi BPOM, jika sudah terbit |
| Skin barrier pasti pulih | Terlalu menjanjikan | Membantu menjaga kelembapan dan fungsi perlindungan kulit |
Checklist Review Klaim Skincare Sebelum Launching
Sebelum produk skincare launching, brand sebaiknya mengecek beberapa hal berikut:
-
Apakah produk benar termasuk kosmetik?
Jangan sampai produk sebenarnya suplemen, pangan, atau herbal tetapi dikomunikasikan sebagai skincare. -
Apakah label sudah sesuai fungsi produk?
Nama produk, fungsi, cara pakai, komposisi, netto, peringatan, dan pihak penanggung jawab harus jelas. -
Apakah klaim sesuai formula?
Jangan membuat klaim hanya karena sedang tren. -
Apakah klaim terdengar seperti obat?
Hindari kata menyembuhkan, mengobati, menghilangkan penyakit, atau klaim medis. -
Apakah klaim terlalu absolut?
Hindari kata pasti, permanen, total, 100%, tanpa risiko, dan instan. -
Apakah promosi sama dengan label?
Jangan sampai label aman, tetapi iklan terlalu agresif. -
Apakah testimoni sudah difilter?
Jangan gunakan testimoni yang mengandung klaim medis atau hasil berlebihan. -
Apakah materi marketplace sudah direview?
Deskripsi marketplace juga bagian dari komunikasi produk. -
Apakah dokumen maklon sudah lengkap?
Pastikan brand punya data formula, spesifikasi produk, dan dokumen pendukung yang diperlukan. -
Apakah sudah konsultasi sebelum cetak kemasan?
Review sebelum cetak jauh lebih hemat daripada revisi setelah stok kemasan jadi.
Kapan Brand Perlu Menggunakan Jasa Review Klaim Skincare?
Brand sebaiknya menggunakan jasa review label dan klaim jika:
- baru pertama kali membuat produk skincare;
- memakai jasa maklon tetapi belum memahami dokumen;
- label sudah dibuat tetapi belum pernah direview;
- klaim produk memakai kata brightening, acne care, anti-aging, barrier repair, whitening, atau sensitive skin;
- akan membuat kampanye iklan besar;
- ingin masuk marketplace atau distributor;
- produk memiliki banyak varian;
- ada testimoni yang ingin dipakai untuk promosi;
- brand ingin menghindari revisi label setelah cetak;
- tidak punya tim regulatory internal.
EdarGo membantu brand meninjau klaim agar bahasa promosi lebih rapi, tidak berlebihan, dan lebih selaras dengan kategori produk.
Bagaimana EdarGo Membantu Review Klaim Skincare?
EdarGo membantu pelaku usaha dan brand kosmetik dalam:
- mapping kategori produk;
- review label skincare;
- review klaim produk;
- review deskripsi marketplace;
- review materi promosi dasar;
- cek potensi klaim medis;
- cek klaim yang terlalu absolut;
- checklist dokumen maklon;
- arahan perbaikan bahasa klaim;
- pendampingan sesuai ruang lingkup yang disepakati.
Untuk review klaim dan label, gunakan Jasa Konsultan Label BPOM. Untuk konsultasi umum izin edar produk, gunakan Jasa Konsultan Izin Edar Produk.
EdarGo tidak menjanjikan notifikasi pasti terbit atau klaim pasti disetujui. EdarGo membantu menata dokumen, label, dan klaim agar lebih siap dan lebih hati-hati sesuai kebutuhan produk.
Hubungan Klaim Skincare dengan Notifikasi Kosmetik
Klaim skincare tidak bisa dipisahkan dari notifikasi kosmetik. Saat brand mengajukan notifikasi, data produk, formula, label, penandaan, dan pihak yang bertanggung jawab harus disiapkan dengan baik. Tata cara pengajuan notifikasi kosmetika diatur dalam Peraturan BPOM Nomor 21 Tahun 2022 yang tercatat berlaku di JDIH BPOM.
Selain itu, kosmetik juga harus memperhatikan persyaratan teknis bahan kosmetik. Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik mencabut aturan teknis bahan kosmetik sebelumnya dan tercatat berstatus berlaku.
Artinya, brand tidak cukup hanya membuat klaim yang menarik. Brand juga perlu memastikan formula, bahan, label, dan promosi tidak saling bertentangan.
Konsultasikan Klaim Skincare Brand Anda dengan EdarGo
Jika Bapak/Ibu sedang menyiapkan skincare, bodycare, haircare, parfum, makeup, atau produk beauty lain, lakukan review klaim sebelum produksi massal dan cetak kemasan.
WhatsApp: 0811-142-518
Perusahaan: PT. Apta Konsultan Indonesia
Alamat: JL. Kayu Manis Barat No. 78, Matraman, Jakarta Timur
Format pesan yang bisa dikirim:
Halo EdarGo, saya ingin review klaim skincare.
Produk saya: [serum/moisturizer/sunscreen/body lotion/dll]
Klaim utama: [brightening/acne care/anti-aging/dll]
Status label: [belum ada/sudah draft/sudah cetak]
Saya ingin cek apakah klaim dan label produk saya sudah lebih aman.
Mulai dari sini: Jasa Konsultan Label BPOM
FAQ Kesalahan Klaim Skincare
1. Apakah klaim skincare harus direview sebelum cetak label?
Sangat disarankan. Label, promosi, dan iklan kosmetik diatur dalam Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024, sehingga klaim sebaiknya dicek sebelum kemasan dicetak atau kampanye iklan berjalan.
2. Apakah klaim “menghilangkan jerawat” aman digunakan?
Klaim tersebut perlu direview karena dapat terdengar seperti klaim pengobatan. Bahasa yang lebih hati-hati biasanya mengarah pada “membantu merawat kulit berjerawat”, tetapi tetap harus disesuaikan dengan formula dan konteks produk.
3. Apakah klaim “memutihkan” boleh digunakan?
Klaim pemutih perlu sangat hati-hati. Brand sebaiknya menghindari klaim ekstrem seperti “memutihkan permanen” atau “putih dalam beberapa hari”. Bahasa seperti “membantu kulit tampak lebih cerah” biasanya lebih hati-hati, tetapi tetap perlu review.
4. Apakah testimoni konsumen boleh dipakai untuk promosi?
Boleh, tetapi harus hati-hati. Testimoni yang mengandung klaim medis, hasil absolut, atau janji berlebihan sebaiknya tidak digunakan sebagai materi promosi utama.
5. Apakah klaim iklan harus sama dengan label?
Klaim di iklan, marketplace, media sosial, dan landing page sebaiknya selaras dengan label. Jangan sampai label ditulis hati-hati tetapi iklan memakai klaim yang terlalu agresif.
6. Apakah EdarGo bisa membantu review klaim skincare?
Bisa. EdarGo dapat membantu review klaim skincare, label, deskripsi produk, materi promosi dasar, dan potensi risiko komunikasi produk melalui Jasa Konsultan Label BPOM.
7. Apakah EdarGo menjamin klaim pasti disetujui?
Tidak. EdarGo tidak menjanjikan hasil pasti. EdarGo membantu mapping dan review awal agar klaim lebih rapi, lebih hati-hati, dan lebih sesuai dengan kategori produk.
Komentar
Posting Komentar