Cara Mengurus Izin Edar Obat Tradisional dan Produk Herbal secara Lebih Terarah


Produk herbal dan obat tradisional masih memiliki pasar yang sangat besar di Indonesia. Banyak pelaku usaha menjual jamu, kapsul herbal, serbuk herbal, minuman herbal, minyak herbal, madu herbal, produk pegal linu, produk daya tahan tubuh, produk kewanitaan, produk stamina, hingga produk berbasis bahan alam lainnya.

Namun, produk herbal tidak bisa dipasarkan sembarangan. Produk seperti ini perlu dimapping dari sisi kategori, bahan, formula, klaim, label, keamanan, mutu, produsen, dan dokumen teknis. BPOM memiliki Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2023 tentang Kriteria dan Tata Laksana Registrasi Obat Bahan Alam, dan regulasi ini mencabut aturan lama tentang pendaftaran obat tradisional, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka.

Karena itu, pelaku usaha tidak cukup hanya mengatakan “produk saya herbal” atau “produk saya jamu”. Produk tetap harus dikaji apakah masuk obat bahan alam, obat tradisional, suplemen kesehatan, pangan olahan, kosmetik, atau kategori lain. Untuk mapping awal, Bapak/Ibu dapat mulai dari Jasa Konsultan Izin Edar Produk.


Apa Itu Obat Tradisional atau Obat Bahan Alam?

Secara umum, obat tradisional dan obat bahan alam berkaitan dengan produk yang menggunakan bahan alam, ramuan, atau komponen herbal tertentu dengan tujuan penggunaan tertentu. Produk ini berbeda dari pangan biasa karena sering menggunakan klaim khasiat atau manfaat kesehatan.

Contoh produk yang sering perlu dimapping sebagai obat tradisional atau obat bahan alam:

  • jamu cair;
  • jamu serbuk;
  • kapsul herbal;
  • tablet herbal;
  • minyak herbal;
  • balm atau minyak gosok berbahan herbal;
  • madu herbal dengan klaim tertentu;
  • produk pegal linu berbahan alam;
  • produk daya tahan tubuh berbasis herbal;
  • produk kewanitaan berbahan herbal;
  • produk stamina berbahan herbal;
  • produk pelangsing herbal;
  • produk herbal untuk pencernaan;
  • produk herbal untuk masuk angin;
  • produk herbal impor.

Namun, tidak semua produk berbahan tanaman otomatis masuk obat tradisional. Teh herbal, minuman rempah, serbuk jahe, madu, atau minuman kunyit asam bisa saja masuk kategori lain, tergantung komposisi, bentuk produk, aturan pakai, klaim, dan target penggunaan.

Jika produk berupa pangan/minuman kemasan produksi lokal, bisa saja perlu dikaji melalui Jasa Konsultan BPOM MD. Jika produk berasal dari luar negeri, gunakan Jasa Konsultan BPOM ML untuk mapping produk impor.


Kenapa Izin Edar Produk Herbal Penting?

Izin edar penting karena produk herbal biasanya dikonsumsi atau digunakan langsung oleh konsumen dengan harapan memperoleh manfaat tertentu. Jika formula, bahan, klaim, mutu, atau label tidak jelas, produk dapat menimbulkan risiko bagi konsumen dan risiko hukum bagi pelaku usaha.

BPOM juga memiliki Peraturan BPOM Nomor 29 Tahun 2023 tentang Persyaratan Keamanan dan Mutu Obat Bahan Alam. Regulasi ini berkaitan langsung dengan komoditi obat tradisional/obat bahan alam dan mencabut aturan lama tentang persyaratan keamanan dan mutu obat tradisional.

Bagi pelaku usaha, izin edar dan dokumen yang tertata membantu:

  • meningkatkan kepercayaan konsumen;
  • memperjelas kategori produk;
  • mengurangi risiko klaim berlebihan;
  • membantu produk masuk marketplace atau distributor;
  • memudahkan kerja sama dengan maklon atau produsen;
  • memperkuat posisi brand;
  • menghindari salah jalur antara pangan, suplemen, kosmetik, dan herbal;
  • menyiapkan label dan dokumen teknis dengan lebih rapi.

Jangan Salah Kategori: Herbal Tidak Selalu Obat Tradisional

Salah satu kesalahan umum adalah menganggap semua produk yang mengandung bahan herbal otomatis masuk obat tradisional. Padahal, kategori produk sangat bergantung pada formula, bentuk sediaan, cara penggunaan, dan klaim.

Contoh perbedaan sederhana:

Jenis ProdukBisa Mengarah keCatatan
Teh jahe tanpa klaim kesehatan spesifikPangan olahanPerlu cek komposisi, label, dan klaim
Kapsul ekstrak tanaman dengan klaim kesehatanObat bahan alam / suplemen / kategori lainPerlu mapping lebih dalam
Minuman kunyit asam kemasanPangan olahan atau kategori lainBergantung klaim dan formula
Jamu serbuk dengan aturan pakai tertentuObat tradisional / obat bahan alamPerlu dokumen bahan, mutu, dan klaim
Beauty drink herbalPangan olahan / suplemen / kategori lainTidak otomatis kosmetik
Minyak gosok herbalObat bahan alam / obat kuasi / kategori lainBergantung fungsi dan klaim
Kapsul pelangsing herbalPerlu kajian sangat hati-hatiKlaim pelangsing berisiko tinggi

Jika Bapak/Ibu belum yakin produk masuk kategori mana, gunakan Syarat dan Cara Pengurusan Izin Edar sebagai panduan awal, lalu konsultasikan melalui EdarGo.


Syarat Awal Izin Edar Obat Tradisional dan Produk Herbal

Syarat izin edar obat tradisional atau obat bahan alam dapat berbeda sesuai jenis produk, formula, klaim, produsen, asal produk, dan dokumen pendukung. Namun, secara umum, pelaku usaha perlu menyiapkan beberapa kelompok dokumen berikut.


1. Legalitas Pelaku Usaha

Legalitas usaha menjadi dasar awal. Pelaku usaha perlu memastikan data usaha dan peran bisnisnya jelas: apakah sebagai produsen, brand owner, maklon, distributor, importir, atau pemegang izin edar.

Data yang perlu disiapkan:

  • NIB atau legalitas usaha;
  • nama pelaku usaha atau badan usaha;
  • alamat usaha;
  • data penanggung jawab;
  • KBLI yang relevan;
  • status sebagai produsen, brand owner, importir, distributor, atau maklon;
  • dokumen legal pendukung jika diperlukan;
  • data akun atau akses sistem resmi jika dibutuhkan.

Jika legalitas usaha belum tertata, proses pengurusan produk akan lebih sulit. Untuk memahami hubungan NIB, OSS, dan perizinan produk, baca artikel EdarGo tentang NIB/OSS atau mulai dari Jasa Konsultan Izin Edar Produk.


2. Data Produk

Data produk harus jelas sejak awal. Jangan hanya menulis “jamu herbal” atau “produk alami”. Produk harus dijelaskan secara teknis.

Data produk yang perlu disiapkan:

  • nama produk;
  • merek;
  • kategori produk;
  • bentuk sediaan;
  • ukuran kemasan;
  • isi bersih;
  • aturan pakai;
  • target pengguna;
  • tujuan penggunaan;
  • masa simpan;
  • cara penyimpanan;
  • status produksi: sendiri, maklon, atau impor;
  • negara asal jika produk impor;
  • foto produk atau mockup kemasan;
  • draft label.

Data produk yang jelas membantu menentukan apakah jalurnya obat bahan alam, suplemen kesehatan, pangan olahan, atau kategori lain.


3. Formula dan Komposisi

Formula adalah bagian paling penting dalam produk herbal. Banyak produk terlihat sama-sama “herbal”, tetapi perbedaan bahan, ekstrak, dosis, dan bentuk sediaan bisa membuat kebutuhan dokumen berbeda.

Data formula yang perlu disiapkan:

  • daftar bahan aktif;
  • bahan tambahan;
  • nama simplisia atau ekstrak;
  • bagian tanaman yang digunakan;
  • jumlah atau kadar bahan;
  • fungsi masing-masing bahan;
  • bentuk bahan, misalnya serbuk, ekstrak, minyak, atau simplisia;
  • bahan hewani jika ada;
  • bahan impor jika ada;
  • bahan yang memiliki batasan penggunaan;
  • dokumen spesifikasi bahan.

Produk dengan formula kompleks, bahan impor, bahan langka, atau klaim kuat perlu direview lebih hati-hati.


4. Dokumen Bahan Baku

Produk herbal sangat bergantung pada kualitas bahan baku. Karena itu, bahan tidak boleh hanya disebut secara umum.

Dokumen bahan baku yang sebaiknya disiapkan:

  • spesifikasi bahan;
  • certificate of analysis jika tersedia;
  • asal bahan;
  • identitas pemasok;
  • dokumen keamanan bahan;
  • dokumen halal bahan jika relevan;
  • dokumen bahan impor jika ada;
  • standar mutu bahan;
  • informasi cemaran jika relevan;
  • identifikasi bahan berisiko.

BPOM memiliki regulasi tentang keamanan dan mutu obat bahan alam melalui Peraturan BPOM Nomor 29 Tahun 2023, sehingga aspek bahan dan mutu perlu diperhatikan sejak awal.


5. Dokumen Produsen atau Maklon

Jika produk dibuat oleh maklon, brand owner wajib memahami dokumen produsen. Jangan hanya fokus pada harga produksi dan desain kemasan.

Dokumen maklon/produsen yang perlu diminta:

  • nama produsen;
  • alamat fasilitas produksi;
  • legalitas produsen;
  • status fasilitas produksi;
  • dokumen produksi;
  • dokumen mutu;
  • formula atau komposisi;
  • spesifikasi produk jadi;
  • alur proses produksi;
  • data bahan baku;
  • dokumen stabilitas jika tersedia;
  • dokumen batch jika produk sudah berjalan.

Jika produk menggunakan maklon, pastikan sejak awal siapa yang memegang izin edar, siapa yang bertanggung jawab atas label, dan dokumen apa saja yang diberikan kepada brand.


6. Proses Produksi dan Mutu

Produk herbal perlu diproduksi secara konsisten. Proses produksi harus dapat menjelaskan bagaimana bahan diolah menjadi produk jadi.

Data proses produksi yang perlu disiapkan:

  • alur bahan baku masuk;
  • proses sortasi atau persiapan bahan;
  • proses ekstraksi jika ada;
  • proses pencampuran;
  • proses pengeringan jika ada;
  • proses kapsulasi/tableting/pengisian;
  • proses pengemasan;
  • pengawasan mutu;
  • penyimpanan bahan dan produk jadi;
  • pengendalian cemaran;
  • catatan produksi batch.

Untuk produk berbentuk kapsul, tablet, serbuk, cairan, atau minyak, kebutuhan proses dan kontrol mutu bisa berbeda.


7. Spesifikasi Produk Jadi

Spesifikasi produk jadi menjelaskan standar produk setelah diproduksi. Ini penting untuk menjaga konsistensi mutu.

Spesifikasi produk jadi dapat mencakup:

  • bentuk produk;
  • warna;
  • aroma;
  • rasa jika dikonsumsi;
  • tekstur;
  • kadar bahan tertentu jika relevan;
  • parameter fisik;
  • parameter kimia;
  • parameter mikrobiologi jika diperlukan;
  • batas cemaran;
  • isi bersih;
  • masa simpan;
  • kondisi penyimpanan.

Produk herbal yang tidak memiliki standar mutu akan lebih sulit dinilai secara teknis.


8. Draft Label Produk Herbal

Label produk herbal harus disusun hati-hati karena sering berkaitan dengan klaim khasiat. Jangan membuat label berdasarkan bahasa marketing semata.

Elemen label yang perlu diperhatikan:

  • nama produk;
  • merek;
  • bentuk sediaan;
  • komposisi;
  • aturan pakai;
  • peringatan;
  • kontraindikasi jika relevan;
  • klaim/manfaat;
  • cara penyimpanan;
  • isi bersih;
  • nama dan alamat pihak bertanggung jawab;
  • nomor izin edar setelah terbit;
  • kode produksi;
  • tanggal kedaluwarsa;
  • logo halal jika sudah bersertifikat;
  • informasi lain sesuai kategori produk.

Untuk review label, gunakan Jasa Konsultan Label BPOM.


9. Klaim Obat Tradisional dan Produk Herbal

Klaim adalah bagian paling sensitif dalam produk herbal. Banyak pelaku usaha memakai klaim terlalu kuat karena ingin produknya cepat dipercaya, padahal klaim berlebihan bisa membuat produk berisiko.

Contoh klaim yang perlu sangat hati-hati:

  • menyembuhkan diabetes;
  • mengobati kanker;
  • menyembuhkan hipertensi;
  • menyembuhkan ginjal;
  • mengatasi stroke;
  • menurunkan berat badan secara drastis;
  • membersihkan racun tubuh secara total;
  • mengobati asam urat permanen;
  • menyembuhkan penyakit kulit;
  • meningkatkan stamina secara instan;
  • aman untuk semua orang tanpa efek samping.

Klaim produk herbal harus sesuai kategori, formula, bukti pendukung, dan ketentuan yang berlaku. BPOM memiliki regulasi terkait klaim khasiat obat bahan alam yang dirujuk dalam materi registrasi OTSKK, yaitu Peraturan BPOM Nomor 30 Tahun 2023 tentang Pedoman Klaim Khasiat Obat Bahan Alam.


10. Dokumen Produk Impor

Jika produk herbal berasal dari luar negeri, dokumen impor perlu disiapkan lebih lengkap. Jangan langsung menerjemahkan label luar negeri dan menjual produk tanpa mapping.

Dokumen produk impor yang perlu disiapkan:

  • legalitas importir;
  • dokumen principal;
  • negara asal;
  • label asli;
  • label bahasa Indonesia;
  • formula dan komposisi;
  • spesifikasi produk;
  • dokumen mutu;
  • dokumen produksi;
  • dokumen halal jika ada;
  • surat penunjukan atau kerja sama;
  • data klaim dari negara asal;
  • dokumen izin di negara asal jika tersedia.

Produk herbal impor perlu dikaji apakah masuk obat bahan alam, suplemen, pangan, atau kategori lain. Untuk produk impor secara umum, baca Jasa Konsultan BPOM ML, lalu lakukan mapping kategori melalui EdarGo.


Tabel Checklist Syarat Izin Edar Obat Tradisional / Herbal

Kelompok DokumenYang Perlu DisiapkanCatatan Penting
Legalitas usahaNIB, data usaha, penanggung jawabHarus jelas peran: produsen, brand, importir, distributor
Data produkNama, merek, bentuk sediaan, aturan pakaiJangan hanya menyebut “herbal”
FormulaBahan aktif, bahan tambahan, dosis/kadarSangat menentukan kategori dan klaim
Bahan bakuSpesifikasi, pemasok, COA, asal bahanPenting untuk keamanan dan mutu
Produsen/maklonLegalitas, fasilitas, dokumen mutuBrand harus memahami dokumen produsen
Proses produksiAlur produksi, pengemasan, penyimpananMembantu menilai konsistensi mutu
Produk jadiSpesifikasi, cemaran, masa simpanMenentukan standar mutu
LabelKomposisi, aturan pakai, klaim, peringatanReview sebelum cetak
KlaimKhasiat/manfaat produkHindari klaim penyakit serius
Produk imporPrincipal, label asli, label IndonesiaJangan asal terjemahkan klaim luar negeri

Cara Mengurus Izin Edar Obat Tradisional dan Produk Herbal

Berikut alur umum yang perlu dipahami pelaku usaha.

1. Mapping Kategori Produk

Langkah pertama adalah menentukan kategori produk. Apakah produk termasuk obat bahan alam, obat tradisional, suplemen kesehatan, pangan olahan, kosmetik, atau kategori lain?

Mapping ini dilakukan dengan melihat:

  • bahan;
  • bentuk sediaan;
  • aturan pakai;
  • cara konsumsi/penggunaan;
  • klaim;
  • target pengguna;
  • status lokal atau impor;
  • status produsen atau maklon.

Jika salah kategori sejak awal, label, dokumen, dan proses pengajuan bisa ikut salah.


2. Cek Legalitas Usaha

Pastikan NIB, KBLI, data usaha, dan peran pelaku usaha sudah sesuai. Produk herbal bisa melibatkan produsen, brand owner, maklon, distributor, atau importir, sehingga data legal perlu jelas.


3. Siapkan Formula dan Dokumen Bahan

Formula harus lengkap dan bahan baku harus dapat ditelusuri. Untuk produk herbal, bahan sering menjadi titik penting karena dapat memengaruhi keamanan, mutu, dan klaim.


4. Cek Dokumen Maklon atau Produsen

Jika produk dibuat oleh maklon, minta dokumen sejak awal. Jangan menunggu ketika proses pengajuan sudah berjalan.

Pertanyaan yang perlu diajukan:

  • produk akan didaftarkan atas nama siapa?
  • siapa pemilik izin edar?
  • dokumen apa yang disediakan maklon?
  • apakah formula bisa digunakan eksklusif?
  • apakah label akan direview?
  • apakah produsen punya dokumen mutu?
  • apakah produk juga mendukung sertifikasi halal?

5. Review Label dan Klaim

Label dan klaim harus direview sebelum cetak kemasan. Klaim seperti menyembuhkan penyakit, menurunkan berat badan drastis, atau aman untuk semua orang tanpa efek samping perlu dihindari.

Untuk review label dan klaim, gunakan Jasa Konsultan Label BPOM.


6. Ajukan Melalui Sistem Resmi

Dokumen standar pelayanan registrasi OTSKK menjelaskan bahwa pemohon melakukan pengisian data dan mengunggah persyaratan registrasi pada sistem aplikasi pendaftaran e-registrasi Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan/ASROT. Dokumen tersebut juga memuat tahapan pemeriksaan kelengkapan, penerbitan Surat Perintah Bayar, dan pembayaran PNBP dalam proses registrasi.

Artinya, proses pengajuan tidak hanya mengirim dokumen secara bebas, tetapi mengikuti sistem dan tahapan resmi.


7. Tindak Lanjuti Koreksi

Dalam proses registrasi, bisa muncul permintaan perbaikan atau tambahan dokumen. Koreksi dapat berkaitan dengan formula, bahan, label, klaim, mutu, produsen, atau dokumen pendukung lain.

Dokumen yang rapi sejak awal akan membantu mempercepat respons terhadap koreksi.


Kesalahan Umum Saat Mengurus Produk Herbal

Berikut kesalahan yang sering terjadi.

1. Menganggap Produk Herbal Pasti Aman

Bahan alam tidak otomatis aman untuk semua orang. Produk tetap perlu dikaji dari sisi dosis, bahan, mutu, cemaran, cara penggunaan, dan target pengguna.

2. Klaim Terlalu Menyembuhkan

Produk herbal sering memakai klaim seperti menyembuhkan diabetes, kanker, ginjal, hipertensi, atau penyakit berat lain. Klaim seperti ini sangat berisiko.

3. Tidak Tahu Kategori Produk

Produk bisa salah jalur antara pangan, suplemen, obat bahan alam, atau kosmetik.

4. Formula Tidak Jelas

Brand hanya tahu nama bahan populer, tetapi tidak tahu dosis, bagian tanaman, bentuk ekstrak, atau dokumen bahan.

5. Tidak Ada Dokumen Bahan Baku

Bahan tidak punya spesifikasi, pemasok tidak jelas, dan tidak ada dokumen mutu.

6. Label Dicetak Sebelum Review

Label produk herbal sering penuh klaim, tetapi belum dicek dari sisi regulasi.

7. Produk Impor Langsung Diterjemahkan

Label luar negeri tidak bisa langsung diterjemahkan mentah-mentah karena kategori dan klaim di Indonesia bisa berbeda.

8. Tidak Meminta Dokumen dari Maklon

Brand owner harus meminta dokumen produsen, formula, label, dan mutu sejak awal.


Contoh Klaim Herbal yang Perlu Direview

Klaim BerisikoKenapa BerisikoAlternatif Lebih Hati-Hati
Menyembuhkan diabetesKlaim penyakit seriusHindari klaim seperti ini
Mengobati kankerKlaim pengobatan beratHindari klaim seperti ini
Menurunkan berat badan drastisMenjanjikan hasil ekstremBantu menjaga pola hidup sehat, jika sesuai
Membersihkan racun totalTerlalu absolutBantu menjaga kondisi tubuh, jika sesuai
Aman untuk semua orangKlaim keamanan absolutGunakan sesuai aturan pakai
Tanpa efek sampingTidak realistisPerhatikan peringatan dan aturan pakai
Menghilangkan asam urat permanenKlaim penyembuhanHindari klaim penyakit
Stamina naik seketikaKlaim instanBantu menjaga stamina, jika sesuai

Alternatif klaim tetap harus disesuaikan dengan formula, kategori produk, bukti pendukung, dan ketentuan yang berlaku.


Hubungan Produk Herbal dengan Halal

Produk herbal juga sering membutuhkan sertifikasi halal, terutama jika menggunakan kapsul gelatin, bahan hewani, flavor, enzim, madu, atau bahan impor.

Yang perlu dicek:

  • asal bahan;
  • pemasok bahan;
  • dokumen halal bahan;
  • proses produksi;
  • fasilitas produksi;
  • potensi kontaminasi;
  • status maklon;
  • penggunaan logo halal setelah sertifikat terbit.

Jika halal ingin diurus bersamaan dengan izin edar, dokumen bahan harus disiapkan sejak awal.


Hubungan Produk Herbal dengan Label BPOM

Label produk herbal sangat penting karena biasanya memuat komposisi, aturan pakai, peringatan, klaim, dan informasi produsen. Jika label terlalu agresif, produk bisa berisiko salah persepsi dan sulit diproses.

Yang perlu dicek pada label herbal:

  • nama produk;
  • kategori produk;
  • komposisi;
  • aturan pakai;
  • peringatan;
  • klaim;
  • target pengguna;
  • isi bersih;
  • produsen;
  • nomor batch;
  • kedaluwarsa;
  • nomor izin edar setelah terbit;
  • logo halal jika relevan.

Untuk review label, gunakan Jasa Konsultan Label BPOM.


Kapan Harus Menggunakan Jasa Konsultan Izin Edar Herbal?

Bapak/Ibu sebaiknya menggunakan jasa konsultan jika:

  • produk berbahan herbal tetapi belum tahu kategorinya;
  • produk menggunakan klaim kesehatan;
  • produk memakai maklon;
  • produk berasal dari luar negeri;
  • formula mengandung banyak bahan;
  • label belum pernah direview;
  • bahan baku belum punya dokumen lengkap;
  • produk ingin masuk marketplace, distributor, atau retail;
  • ingin mengurus halal juga;
  • tidak punya tim regulatory internal.

Konsultan tidak menjamin izin pasti terbit. Namun, konsultan membantu memetakan jalur, merapikan dokumen, dan mengurangi risiko salah kategori.


Bagaimana EdarGo Membantu Produk Herbal?

EdarGo membantu brand owner, produsen, importir, dan distributor melakukan mapping awal izin edar produk herbal.

Layanan yang dapat dibantu:

  • mapping kategori produk herbal;
  • cek apakah produk cenderung obat bahan alam, suplemen, pangan, kosmetik, atau kategori lain;
  • review formula dan komposisi secara awal;
  • checklist dokumen bahan;
  • checklist dokumen produsen atau maklon;
  • review label dan klaim;
  • review risiko klaim kesehatan;
  • mapping halal jika diperlukan;
  • koordinasi dokumen produk impor;
  • pendampingan sesuai ruang lingkup yang disepakati.

Mulai dari Jasa Konsultan Izin Edar Produk. Jika label dan klaim sudah tersedia, gunakan Jasa Konsultan Label BPOM.

EdarGo tidak menjanjikan izin pasti terbit. Keputusan tetap mengikuti sistem dan evaluasi lembaga berwenang. Fokus EdarGo adalah membantu dokumen, label, klaim, dan alur pengurusan menjadi lebih rapi.


Konsultasikan Produk Herbal Anda dengan EdarGo

Jika Bapak/Ibu sedang menyiapkan jamu, kapsul herbal, minuman herbal, minyak herbal, madu herbal, serbuk herbal, atau produk berbahan alam lain, konsultasikan dulu sebelum produksi massal dan cetak kemasan.

WhatsApp: 0811-142-518
Perusahaan: PT. Apta Konsultan Indonesia
Alamat: JL. Kayu Manis Barat No. 78, Matraman, Jakarta Timur

Format pesan yang bisa dikirim:

Halo EdarGo, saya ingin konsultasi izin edar produk herbal.
Produk saya: [jamu/kapsul herbal/serbuk/minyak herbal/madu herbal/dll]
Produksi: [maklon/produksi sendiri/impor]
Klaim utama: [daya tahan tubuh/stamina/pegal linu/pencernaan/dll]
Saya ingin cek kategori, formula, label, klaim, dan dokumen teknis yang perlu disiapkan.

Mulai dari sini: Jasa Konsultan Izin Edar Produk


FAQ Izin Edar Obat Tradisional dan Produk Herbal

1. Apa regulasi utama registrasi obat bahan alam?

Salah satu rujukan utama adalah Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2023 tentang Kriteria dan Tata Laksana Registrasi Obat Bahan Alam, yang tercatat berlaku di JDIH BPOM.

2. Apakah produk herbal otomatis masuk obat tradisional?

Tidak selalu. Produk perlu dimapping berdasarkan bahan, bentuk sediaan, klaim, aturan pakai, dan tujuan penggunaan. Bisa saja produk masuk pangan olahan, suplemen kesehatan, obat bahan alam, kosmetik, atau kategori lain.

3. Apa regulasi keamanan dan mutu obat bahan alam?

BPOM memiliki Peraturan BPOM Nomor 29 Tahun 2023 tentang Persyaratan Keamanan dan Mutu Obat Bahan Alam, yang tercatat berlaku dan berkaitan dengan komoditi obat tradisional/obat bahan alam.

4. Apakah klaim “menyembuhkan penyakit” boleh digunakan?

Klaim seperti menyembuhkan diabetes, kanker, hipertensi, ginjal, dan penyakit berat lain sangat berisiko. Klaim harus mengikuti kategori produk, formula, bukti pendukung, dan ketentuan yang berlaku.

5. Apakah produk herbal impor bisa langsung dijual?

Tidak disarankan. Produk herbal impor perlu dimapping dari sisi kategori, dokumen principal, label Indonesia, formula, klaim, dan ketentuan izin yang berlaku.

6. Apakah produk herbal juga perlu halal?

Bisa, terutama jika produk menggunakan bahan hewani, kapsul gelatin, flavor, bahan impor, atau ingin membangun trust pasar muslim. Status halal perlu didukung dokumen, bukan hanya klaim.

7. Apakah EdarGo menjamin izin edar herbal pasti terbit?

Tidak. EdarGo tidak menjanjikan izin pasti terbit. EdarGo membantu mapping, review dokumen, review label, review klaim, dan pendampingan agar proses lebih rapi.